Waspada Kekerasan Terhadap Anak



“Kekerasan terhadap anak adalah segala bentuk kekerasan fisik dan mental, pencederaan dan perlakuan salah, penelataran atau perlakuan alpa, perlakuan buruk atau eksploitasi, termasuk perlakuan salah seksual”
Pasal 19 konvensi Hak Anak PBB

Kekerasan terhadap anak menimpa hampir setiap lapisan masyarakat, dan terjadi di berbagai lingkungan – rumah, sekolah, masyarakat, lembaga peradilan dan penasuhan, tempat kerja, dan yang semakin meningkat melalui internet.

Menurutdata yang dikumpulkan oleh pusat data dan Informasi Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia dari tahun 2010 hingga tahun 2014 tercatat sebanyak 21.869.797 kasus pelanggaan hak anak, yang tersebar di 34 provinsi, dan 179 kabupaten dan kota. Senesar 42-58% dari pelanggaran hakanak itu merupakan kejahatan seksual terhadapanak. Selebihnya adalah kasus kekerasan fii, dan peelantara anak.

Akibat dari kekerasan bersifat langsung, sering berdampak jangkadan permanen, dan secara jelas berdapak pada kesehatan fifik dan emosional anak dan perkembangan sosialnya.

Lingkungan sekolah, lembaga pengasuhan dan peradilanmemainkan pera penting dalam melindungi anak. Namun bagi sebagian kasus, lingkungan itu juga membuat anak terpapar berbagai resiko seperti hukuman fisik, bullying atau perilaku kekerasan.

Kekerasan seksual sering menimpa anak perempuan tetapi tidak menutp kemungkinan terjadi pula pada anak lai-laki. Kekerasan seksual merupakan salah satu pelanggaranhak asasi manusia dan mencangkup penyalahgunaan, pelecehan, perkosaan dan eksploitasi seksual ( termasuk prostitusi dan pornografi ).

Berbgai penelitian mengungkapkan bahwabanyak perilaku kekerasan seksual ( satu atau lebih jenis kekerasan seksual ) dalah anggota keluarga dekat, guru atau tetangga.

Kebanyakan korban kekerasan seksual pada anak berusia sekitar 5 hingga 10 tahun. Modus pelaku dalam mendekati korban sangatlah bervariasi misalnya mereka tinggal mendekati korban dan mengajak ngobrol saja, ada juga yang membujukuk korban, ada juga yang merayu dan ada juga yang memaksakorbannya. Modus yang lebih kini yakni pelaku menggunakan jejaring sosial/internet dengan berkenalan dengan korban, kemudia mengajak bertemu dan selanjutnyamelakukankekerasan seksual.

Tips mendidik anak dan menjaga anak dari korban kekerasan seksual :

1. bangun kedekatanemosidan selalu menjalin komunikasidengan anak

2. sedini mungkin anak harus dikenlkan pada tubuhnya sendiri, mana bagian tubuhnya yang bole diperlihatkan pada/dipegang oleh orang lain dan mana yang tidak.

3. anak harus dibiasakan untuk menolak perlakuan orang lain yang menyebabkan dia merasa tidak nyaman/terganggu/sakit.

4. kalau ada perlakuan yang tak wajar terhadap dirinya, biasakan anak untuk segera bercerita kepada orang tua, guru, atau keluarga yang lain ia percaya.

5. jangan menganggap hal-hal yang terkait dengan orga seksual sebagai hal yang tabu. Tetapi bicaraka dengan bahasa yang dimengerti dan pada waktu yang tepat.

6. ketahui dengan siap dan ke mana anak anda sering menghabiskan waktunya.

Jika anak anda menjadi korban kekerasan seksual, perhatian tanda-tandanya :

1. perhatikan bila ada perubahan perilaku : jika anak mengompol, agresif tanpa alasan jels, menalami mimpi buruk, tidak mau berpisah dari anda jika diantar ke suatu tempat (sekolah/penitipan).

2. perhatikan bila anak menunjukkan perilaku tertutup yang tidak biasa. Dalam banyak kejadian, anak-anak yang menjadi korban merasa malu atau bingung dengan apa yang terjadi karena mereka tidak tahu cara mengungkapkan perasaannya sehingga mereka hanya bisa memendammya

3. perhatikan tanda-tanda fisikyang mungkin ada pada tubuh anak anda. Beberapa tanda terjadinya pelecehan seksual atau kekerasan seksual pada anak antara lain : sulit duduk atau berjalan, pendarahan/memr pada bagian mulut, alat kelamin atau anus, kesakitan ketikabuang air.

Bila anak melaporkan hal yang tidak menyenangkan atau kejadian kekerasan yang dialaminya, percayailah apa yangdikatakan oleh anak. Tetap tenang dan jangan tunjukkan kemarahan anda pada anak. Segera cari bantuan dari orang-orang yang kompeten seperti psikolog, lembaa perlindungan anak atau ke polisi.


Komentar

Postingan Populer