Puisi "Jejak lembayung"

Apa yang terjadi wahai cinta. Sejauh ini aku masih tak paham. Aku adalah hujan, mungkin kau tak suka, aku paham jika kau ingin berteduh.
Tapi kau lama sekali. Ku kira kau hanya sebentar. Tapi ternyata sejauh ini kau tak kunjung kembali.
Wahai lembayung yang meninggalkan hujan. Jejak kakimu di antara tanah yang basah masih ada dan utuh. Selalu ku tatap kala ku rindu. Kala itu kau terlihat sangat bahagia.
Kau mengatakan kau sangat menyukai hujan dan ingin selamanya bersama hujan. Tapi seketika kau merasa sedikit dingin, kau lalu pergi. Kukira hanya sebentar, tapi nyatanya kau tak kembali.
Aku adalah hujan, kau boleh pergi jika kau tak suka. Tapi harusnya kau tak pernah datang menghampiri dan bermain saat aku turun.
Aku sangatlah riang melihat mu hadir tertawa bersama ku saat aku turun.
Tapi bahagia itu hanya sejenak. Lalu kau pergi dan tinggallah hujan sendiri.
Mentalmu sangatlah lemah wahai lembayung. Hanya karena sedikit kedinginan kau pergi tanpa pesan.
Aku rindu melihat mu tertawa menari bersama ku. Kita menari bersama memberi warna dan membuat suasana menjadi indah.
Tapi apalah daya. Kau telah pergi dan aku tak tau kau dimana.
Kau datang dan pergi saat hujan sedang lebat-lebatnya. Padahal banyak hal yang ingin aku katakan. Banyak hal yang ingin aku sampaikan, banyak hal yang belum kita lakukan bersama.
Wahai lembayung, akankah kau kembali.
Akan kah kau menempati janji bahwa kau tak akan meninggalkan hujan.
Wahai lembayung, aku masih disini. Aku masih turun dengan derasnya, berharap kau datang di saat seperti ini.
Aku adalah hujan, pikirkan baik-baik jika kau kembali. Siapkah kau selalu basah dan kedinginan?
Aku adalah hujan, yang akan selalu ada saat ini dan selamanya, jika kau rindu kau boleh menatapku, akupun juga begitu.
Aku adalah hujan, hanya dia yang siap selalu menahan rasa dingin untuk tetap bisa bersama ku. Dan aku berharap itu kamu.
Aku adalah hujan, dan aku akan selalu merindukan lembayung.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer